#NavbarMenu { background:url(http://i.picresize.com/images/2015/04/09/R7gZG.png)bottom; width: 100%; height:54px; font-size: 20px; color: #fff; font-weight: normal; margin: auto; padding:0px; text-align:center; font-family: 'Amatic SC', cursive; } #nav { width: 980px; margin: 0 auto 0; padding: 0px 20px 0px; /* border-top:1px dashed #dcd1ba; border-bottom:1px dashed #dcd1ba; */ text-align:center; } #nav ul { list-style: none; margin: 0 auto 0; padding: 0; text-align:center; display:inline; } #nav li { list-style: none; margin: 0 auto 0; padding: 0; display:inline; } #nav li a, #nav li a:link, #nav li a:visited { display:inline-block; font-weight: bold; text-transform: uppercase; margin: 0 auto 0; padding:5px 10px; color:#fff; } #nav li a:hover, #nav li a:active { color: #28170b; margin: 0; padding:5px 10px; text-decoration: none; font-weight: bold; }

Wednesday, August 28, 2019


Kebahasaan Novel Sejarah
1. Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau
Contoh: Ia ingin kerja rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya pada ayahnya tercinta di desa.

2. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal), seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula-mula, kemudian.
Contoh: Kapas itu digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas talam, kemudian dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan.

3. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan (kata kerja material).
Contoh: Tetapi Tunggul Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang diberi bertilam permadani. Tunggul Ametung duduk di sampingnya.

4. Banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang. Misalnya, mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, menggungkapkan, menanyakan, menyatakan, menuturkan.
Contoh: Menurut tata-tertib yang diketahuinya, dengan sutra itu ia harus membasuh muka Tunggul Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara.

5. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental). Misalnya, merasakan, mengingikan, mengharapkan, mendambakan, menganggap.
Contoh: “Hatiku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada apa, Arok?”

6. Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda (‘..”) dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung.
Contoh: “Ada sahaya dengar sesuatu, Bapa, tapi masih jauh." "Apa yang kau dengar?"

7. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana
Contoh:
Berita itu adalah tentang Borang, seorang pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa kegemaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di sebelah barat Kutaraja.

Kebahasaan yang Sering Muncul
§  Bahasa naratif yang banyak mengandung urutan waktu untuk menggambarkan peristiwa.
“… kemudian ia lihat kaki Dedes yang berhartal itu melangkah lambat-lambat.”
§  Banyak melibatkan konjungsi temporal, yang berguna untuk menjelaskan urutan peristiwa yang diceritakan
“… ia bangun waktu seorang gadis biarawati membagi-bagikan cawan tanah berisi air daging kaldu ayam. Setelah itu orang baru mendapat kebebasan untuk beristirahat atau berjalan-jalan.”
§  Banyak menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana
“Kau seorang muda yang cerdas, giat, gesit, ingatanmu sangat baik, berani, tabah menghadapi segalanya.”


No comments:

Post a Comment