Kebahasaan Novel Sejarah
1. Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau
Contoh: Ia ingin kerja
rias ini tiada kan berakhir. Dalam empat puluh hari ia telah bermohon
pada Mahadewa agar melepaskannya dari kungkungan ini, mengembalikannya pada
ayahnya tercinta di desa.
2. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu
(konjungsi kronologis, temporal), seperti: sejak saat itu, setelah itu,
mula-mula, kemudian.
Contoh: Kapas itu
digulungnya setelah ditaburinya dengan daun bunga, diletakkan di atas talam, kemudian
dengan iringan Rimang dibawa pergi ke Bilik Larangan untuk disimpan.
3. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu
tindakan (kata kerja material).
Contoh: Tetapi Tunggul
Ametung membopongnya lagi, mendudukkannya di sebuah bangku yang
diberi bertilam permadani. Tunggul Ametung duduk di sampingnya.
4. Banyak menggunakan kata kerja yang menunjukkan kalimat
tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang.
Misalnya, mengatakan bahwa, menceritakan tentang, menurut, menggungkapkan,
menanyakan, menyatakan, menuturkan.
Contoh: Menurut
tata-tertib yang diketahuinya, dengan sutra itu ia harus membasuh muka Tunggul
Ametung, badan dan tangan sebagai awal upacara.
5. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu
yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental). Misalnya,
merasakan, mengingikan, mengharapkan, mendambakan, menganggap.
Contoh: “Hatiku
merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ada apa, Arok?”
6. Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda
petik ganda (‘..”) dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung.
Contoh: “Ada sahaya
dengar sesuatu, Bapa, tapi masih jauh." "Apa yang kau dengar?"
7. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk
menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana
Contoh:
Berita itu adalah
tentang Borang, seorang pemuda berperawakan kukuh, berani atau nekad, tanpa
kegemaran. Ia muncul di tanah lapangan Bantar, setengah hari perjalanan di
sebelah barat Kutaraja.
Kebahasaan yang Sering Muncul
§
Bahasa naratif yang banyak mengandung urutan
waktu untuk menggambarkan peristiwa.
“…
kemudian ia lihat kaki Dedes yang berhartal itu melangkah lambat-lambat.”
§
Banyak melibatkan konjungsi temporal, yang
berguna untuk menjelaskan urutan peristiwa yang diceritakan
“…
ia bangun waktu seorang gadis biarawati membagi-bagikan cawan tanah berisi air
daging kaldu ayam. Setelah itu orang baru mendapat kebebasan untuk beristirahat
atau berjalan-jalan.”
§
Banyak
menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana
“Kau
seorang muda yang cerdas, giat, gesit, ingatanmu sangat baik, berani, tabah
menghadapi segalanya.”